KomentarArtikel : Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui Apakah kau masih selembut dahulu Memintaku minum
Adaserdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
NB ada polemik tentang puisi ini, Silang endapat perihal dua entitas puisi yang masing masing berjudul "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono dan "Lafaz Cinta" karya Kahlil Gibran yang sangat identik dalam syair-syairnya, namun jelas sudah sekarang faktanya bahwa puisi indah ini memang karya asli Sapardi untuk info lebih lanjut bisa
KumpulanPuisi Soe Hok Gie. Akankah aku masih bertemu tanggal dan bulan yang sama di tahun depan? Bila cahaya terus terbebam? Dan.. Tak kah kau tunjukkan, Bahwa esok, Pagi benar-benar kan tetep berjalan. Di antara embun-embun. Yang slalu bersemayam.. Pertengahan 2009.
PuisiCahaya Bulan — Ost Soe Hok Gie Diposting oleh aLaM_KaNesHirO , Rabu, Desember 16, 2009 at 22.48.00, in Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
SoeHok Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di atap tertinggi Pulau Jawa tersebut. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676 meter (dari atas permukaan laut), Hok Gie, Idhan, Rahman terserang gas beracun. Hok Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan nyawa mereka tidak sempat tertolong.
3zuO2Ml. Ceceu Herlina87 2y↑2Pertama x denger puisi & lagunya th 2006 apa yaak,, lupa,, saat kuliah di Jogjaa. Syahdu,, merinding,, keren,, sedih,, campur aduk..
Cahaya bulan Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa. Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui. Apakah kau masih selembut dahulu? Memintaku minum susu dan tidur terlelap sambil membenarkan letak leher kemejaku. Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih Lembah Mandalawangi.. Kau dan aku tegak berdiri.. Melihat hutan-hutan yang menjadi suram. Meresapi belaian angin yang menjadi dingin. Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu.. Saat ku dekap,kau dekaplah lebih mesra.. Lebih dekat.. Apakah kau akan berkata,ku dengar detak jantungmu.. Kita begitu berbeda dalam semua.. Kecuali dalam cinta.. Cahaya bulan menusuk ku,dengan ribuan pertanyaan.. Yang tak kan pernah ku tahu. Dimana jawaban itu.. Bagai letusan berapi. Bangun ku dari mimpi.. Sudah waktunya berdiri. Mencari jawaban,kegelisahan hati. *soe hok gie Baca Juga Kumpulan Puisi Lain nya Klik Disini
puisi soe hok gie cahaya bulan